Tuesday, April 9, 2013

Kisah Aiptu Jailani, Polantas Jujur & Tak Kenal Damai di Gresik

Sekitar sembilan tahun silam, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menjadi 'momok' tersendiri bagi para pengendara, baik dari dalam maupun luar kota, yang tengah melintasi jalanan di Kota Pudak, julukan Gresik. Sebab, ada seorang anggota Satlantas Polres Gresik yang dikenal suka main tilang.

Tapi jangan salah, ini bukan tilang sembarang tilang. Surat tilang tak kenal kompromi, siap disematkan bagi siapa saja yang melanggar rambu-rambu lalu lintas di Gresik. Tak ada kata tilang di tempat dan tak ada 86 alias kata damai, meski si pelanggar seorang perwira atau pejabat.

Dan inilah yang menjadikan surat tilang di Kabupaten Gresik itu, menjadi 'hantu' menakutkan bagi para pengendara yang tidak mematuhi rambu-rambu. Bukan hanya masyarakat sipil, bahkan anggota polisi, perwira TNI, pejabat, wartawan dan anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)-pun geregetan, jika harus berhadapan dengan surat tilang yang dibawa seorang anggota Satlantas Polres Gresik itu.

Adalah Aiptu Jailani, anggota Satlantas Polres Gresik, si pemilik surat tilang tersebut. Nama Jailani cukup tenar di seantero Kota Pudak itu. Kabarnya nama Kapolres Gresik, atau bahkan nama Kapolri sekalipun masih kalah tenar dengan nama Jaelani jika ditanyakan di Gresik.

Jailani dikenal tegas dan disiplin dalam bertugas. Dan yang tak kalah penting, anti suap alias 86 jika dia sudah mengeluarkan surat tilangnya. Di Gresik, dia dikenal sebagai anggota lantas yang tak mengenal kata kompromi, meski yang ditilang itu atasannya sekalipun.

"Jangankan masyarakat biasa, anggota polisi hingga pejabat di lingkungan Pemkab Gresik pun, pernah dihadiahi surat tilang oleh Jaelani," kata Kumara, warga Gresik.

Berkat kedisiplinan dan keteguhannya menolak suap itulah, Jailani pernah menerima sejumlah penghargaan. Dia pernah menerima penghargaan sebagai polisi teladan di Gresik dari komunitas seniman Cager pada tahun 2011 dan penghargaan dari salah satu media massa dengan kategori yang sama.

Selain itu, Jailani juga pernah menerima penghargaan dari Polda Jawa Timur sebagai anggota Polantas yang memiliki kredit point atas buku tilang terbanyak, yaitu 2.400 lembar surat tilang terhadap masyarakat yang melanggar lalu lintas.

"Bagaimana tidak banyak, wong istrinya sendiri saja pernah ditilangnya. Apalagi masyarakat yang bukan sanak bukan kadhang (tak ada hubungan famili), jangan harap bisa lolos dari surat tilang Jailani," ketus Widya, perawat RS Semen Gresik.

Memang, Polantas kelahiran Jombang, 44 tahun silam itu, dikenal tegas, disiplin dan tak pandang bulu saat menjalankan tugasnya sebagai anggota Lantas di Polres Gresik. Dia tak pernah memilih-milih siapa yang akan ditilangnya. Dan itu diakui sendiri oleh masyarakat sekitar. Sementara bagi Jailani, siapa saja yang melanggar aturan, wajib dikenakan sanksi.

Beberapa masyarakat Gresik juga kerap bercerita, Jailani itu polisi langka di Republik ini. Dia sangat adil ketika mengemban tugasnya sebagai polisi. Ada segudang cerita dari masyarakat soal sepak terjang Jailani. Tiap Kamis malam Jumat, masyarakat Gresik memiliki tradisi ke Makam Sunan Giri, Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim atau beberapa kawasan religi yang ada di Gresik. Sebagian dari mereka ada yang berkendara. Karena memakai sarung dan peci, mereka pun tak mengenakan helm.

"Saat kepergok Jailani, mereka ditilang. Lalu mengatakan pada Jailani: Saya ini mau ke Makam Sunan Giri, kenapa ditilang? Dengan diplomatis, dijawab oleh Jailani, sekarang kalau saya mau masuk masjid sambil mengenakan helm dan sepatu bagaimana? Tentu tidak boleh, karena ada aturan ketika seseorang hendak masuk tempat ibadah. Juga begitu dengan aturan berkendara di jalanan, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi," cerita Teguh dalam sebuah obrolan di warung kopi dekat Perlimaan Kebomas, Gresik saat ditanya seputar Jailani.

Namun, di balik 'keangkeran' sikap Jailani yang tak kenal kompromi itu, sesungguhnya Jailani merupakan sosok pria yang ramah dan enak diajak ngobrol.

"Sanksi itu kan tidak hanya berupa surat tilang, bisa dengan teguran. Ya kita lihat kadar pelanggarannya. Dengan surat tilang toh bukan berarti mereka (para pelanggar) jera, siapa tahu dengan teguran, arahan bisa menjadikan masyarakat lebih disiplin," ujar Jailani dalam pembicaraan dengan merdeka.com, Minggu (31/3).

Jailani juga mengaku percaya diri (PD) ketika menjalankan tugasnya sebagai Polantas, meski tak sedikit yang memaki dan mengecam sikap dan kejujurannya.

"Saya PD saja. Saya tidak pernah merasa kalau saya bertindak seperti ini akan dianggap salah dan dijauhi banyak orang. Kalaupun saya harus menilang siapa saja yang melanggar, saya pasti menjelaskan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan si pengendara. Jika mereka paham dengan tugas dan tanggung jawab saya, saya yakin mereka akan mengerti," tandas Jaelani.

Di tengah sorotan tentang prilaku polisi yang korup, Jailani seolah karang di tengah ombak yang mampu berdiri kokoh. Semoga masih banyak polisi jujur seperti Jailani di negeri ini.

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-jaelani-polantas-jujur-tak-kenal-damai-di-gresik.html

Cerita Tukang Becak, Tukang Bakso, & Tukang Kue Tentang Kejujuran

Kejujuran menjadi barang yang dicari di negeri ini. Tak heran kalau sejumlah kisah kejujuran memberi inspirasi bahwa masih ada orang-orang berhati mulia. Sejumlah pembaca detikcom mengirimkan kisahnya tentang orang-orang jujur, mulai dari tukang becak, tukang kue, hingga tukang bakso. Bagaimana saja kisahnya?

Cerita soal tukang becak yang jujur ini disampaikan pembaca detikcom Y Susilo di Yogyakarta. Dalam surat elektroniknya dia bertutur mengenai seorang tukang becak bernama Didit yang biasa mangkal di sebelah timur Pasar Ngasem, Yogyakarta.

"Sekitar 3 tahun yang lalu, sekitar jam 07.00 WIB dompet saya jatuh di jalan setelah mengantar anak ke sekolah. Pada saat itu saya mengantar dengan sepeda motor dan memakai celana pendek. Dompet saya masukkan di saku bagian depan celana. Sampai di rumah, saya baru tersadar jika dompet saya jatuh," cerita Susilo mengawali pengalamannya, Rabu (23/1/2013).

Susilo tak putus harapan. Dia bergegas, mencari dompetnya yang hilang. Susilo menelusuri rute jalan yang dia lewati. "Hasilnya nihil, dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang tidak ketemu. Segera saya memblokir kartu ATM dan kartu kartu kredit demi pengamanan," terangnya.

Susilo belum melapor ke polisi. Dia masih berharap ada yang bisa menemukan dompetnya. Benar, sore hari ada SMS masuk yang mengabarkan telah menemukan dompetnya berikut isinya.

"Penemu dompet tersebut dapat memberi kabar SMS karena di dompet ada kartu nama saya. Singkat cerita, pukul 16.30 WIB saya sudah sampai rumah Pak Didit untuk mengambil dompet tersebut. Rumahnya di selatan Pasar Niten Jl Bantul, Yogyakarta. Saya sendiri tinggal di seputar Alun-alun Kidul, Yogyakarta. Setelah saling berkenalan, Pak Didit menyerahkan dompet saya yang ternyata masih lengkap isinya, baik surat-surat maupun uang di dalamnya," urai Susilo.

Tukang becak bernama Didit itu mengaku sudah beberapa kali menemukan dompet di jalan dan berusaha keras untuk mengembalikan ke pemiliknya. Sebelum pamit, Susilo memberikan uang dalam amplop yang sudah dia siapkan.

"Namun Pak Didit bersikeras untuk menolaknya. Baginya menemukan dompet dan mengembalikan ke pemiliknya sudah menjadi kewajiban baginya. Saya tidak kurang akal, amplop tersebut saya serahkan ke salah satu anaknya yang berusia 5 tahun. Saya menyatakan bahwa uang tersebut untuk putranya jadi Pak Didit tidak berhak menolaknya," jelas Susilo.

Cerita soal kejujuran datang juga dari Semarang. Ade Ferdinan, warga Perum Pandanaran Hills membagi kisahnya mengenai seorang tukang sayur, yang mengembalikan STNK miliknya. Kisah ini terjadi awal Januari 2013 ini.

Saat itu dia pergi ke pasar di kawasan Semarang. Nah, seperti biasa STNK mobil diselipkan di dompet. Mereka sekeluarga pun berbelanja di pasar. Tanpa disadari, STNK yang hanya nyelip di dompet jatuh di pasar.

"Siang hari kami mulai kebingungan mencari STNK, seluruh rumah kami sudah periksa, sampai di tempat sampah juga, hasilnya nol alias tidak ketemu. Kami mulai khawatir dan mengira-ngira di mana kehilangannya. Sampai besok kami pusing dibuatnya," jelas Ade dalam surat elektroniknya.

Hingga pada keesokan harinya, dia pergi ke pasar itu lagi dan menanyai pedagang satu persatu. Mulai dari penjual ikan, sayur, hingga tukang kue. Nah, ternyata pada saat di tempat penjual kue sang ibu penjual menanyakan kepada Ade soal kehilangan STNK.

"Tentu saja kami menjawab pasti ya dan ibu penjual kue menyerahkan STNK mobil kami. Pada saat kami ingin memberikan tanda terima kasih, ibu kue menolak, bahwa dia mengatakan rezeki itu di tangan Yang di atas. Kami hanya mendoakan bahwa setiap rezeki yang dia terima merupakan salah satu dari kebaikan kejujuran yang dia terapkan," terang Ade.

Satu lagi kisah kejujuran datang dari Malang, Jatim. Seorang tukang bakso di kawasan Jl Salatiga mengembalikan Blackberry (BB) yang ditemukannya. Dia juga menolak imbalan yang diberikan pemilik BB itu.

Kisah itu dituturkan Dessy (25) warga Jl DI Panjaitan, Malang. Cerita bermula pada Desember 2012 lalu kala suaminya Dwi (25) yang mengendarai motor ditabrak sebuah mobil L 300. Dwi jatuh dan BB-nya pun ikut jatuh.

"Sesampainya di kantor suami saya baru menyadari kalau HP BlackBerry yang ada tadi di kantong sudah tidak ada. Lalu dia telepon saya menceritakan semua kejadian yang dia alami tadi, saya diminta untuk mencoba menghubungi HP BlackBerry-nya," jelas Dessy.

Saat dia menelepon ke BB suaminya, ada seseorang yang mengangkat. Di ujung telepon, sang bapak mengaku sebagai penjual bakso dan mempersilakan mengambil BB itu ke Jl Salatiga, Malang.

"Saya orang jual bakso di Jl Salatiga, tadi suaminya jatuh dan HP-nya saya temukan. Silakan ambil saja di Jl Salatiga, Mbak," cerita Dessy menirukan sang bapak.

Suami Dessy kemudian berangkat ke Jl Salatiga untuk menemui penjual bakso itu. "Subhanallah, orang jual bakso itu benar-benar jujur, dengan polosnya dia berkata "Saya ndak mau apa-apa Mas, yang penting Anda selamat saya sudah senang, ini HP-nya," tutur Dessy.


Sumber : http://news.detik.com/read/2013/01/23/094851/2150314/10/cerita-tukang-becak-tukang-bakso-tukang-kue-tentang-kejujuran

Dua Manusia Super di Pinggir Jalan



Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.

Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.


Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta.

“Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

“Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

“Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

“Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.

Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !”

Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”

“Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu … sebentar.” “Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.

Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!”

Mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.

Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukkan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Sumber : http://www.maskolis.com/2011/03/dua-manusia-super-di-pinggir-jalan.html