Tuesday, April 9, 2013

Cerita Tukang Becak, Tukang Bakso, & Tukang Kue Tentang Kejujuran

Kejujuran menjadi barang yang dicari di negeri ini. Tak heran kalau sejumlah kisah kejujuran memberi inspirasi bahwa masih ada orang-orang berhati mulia. Sejumlah pembaca detikcom mengirimkan kisahnya tentang orang-orang jujur, mulai dari tukang becak, tukang kue, hingga tukang bakso. Bagaimana saja kisahnya?

Cerita soal tukang becak yang jujur ini disampaikan pembaca detikcom Y Susilo di Yogyakarta. Dalam surat elektroniknya dia bertutur mengenai seorang tukang becak bernama Didit yang biasa mangkal di sebelah timur Pasar Ngasem, Yogyakarta.

"Sekitar 3 tahun yang lalu, sekitar jam 07.00 WIB dompet saya jatuh di jalan setelah mengantar anak ke sekolah. Pada saat itu saya mengantar dengan sepeda motor dan memakai celana pendek. Dompet saya masukkan di saku bagian depan celana. Sampai di rumah, saya baru tersadar jika dompet saya jatuh," cerita Susilo mengawali pengalamannya, Rabu (23/1/2013).

Susilo tak putus harapan. Dia bergegas, mencari dompetnya yang hilang. Susilo menelusuri rute jalan yang dia lewati. "Hasilnya nihil, dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang tidak ketemu. Segera saya memblokir kartu ATM dan kartu kartu kredit demi pengamanan," terangnya.

Susilo belum melapor ke polisi. Dia masih berharap ada yang bisa menemukan dompetnya. Benar, sore hari ada SMS masuk yang mengabarkan telah menemukan dompetnya berikut isinya.

"Penemu dompet tersebut dapat memberi kabar SMS karena di dompet ada kartu nama saya. Singkat cerita, pukul 16.30 WIB saya sudah sampai rumah Pak Didit untuk mengambil dompet tersebut. Rumahnya di selatan Pasar Niten Jl Bantul, Yogyakarta. Saya sendiri tinggal di seputar Alun-alun Kidul, Yogyakarta. Setelah saling berkenalan, Pak Didit menyerahkan dompet saya yang ternyata masih lengkap isinya, baik surat-surat maupun uang di dalamnya," urai Susilo.

Tukang becak bernama Didit itu mengaku sudah beberapa kali menemukan dompet di jalan dan berusaha keras untuk mengembalikan ke pemiliknya. Sebelum pamit, Susilo memberikan uang dalam amplop yang sudah dia siapkan.

"Namun Pak Didit bersikeras untuk menolaknya. Baginya menemukan dompet dan mengembalikan ke pemiliknya sudah menjadi kewajiban baginya. Saya tidak kurang akal, amplop tersebut saya serahkan ke salah satu anaknya yang berusia 5 tahun. Saya menyatakan bahwa uang tersebut untuk putranya jadi Pak Didit tidak berhak menolaknya," jelas Susilo.

Cerita soal kejujuran datang juga dari Semarang. Ade Ferdinan, warga Perum Pandanaran Hills membagi kisahnya mengenai seorang tukang sayur, yang mengembalikan STNK miliknya. Kisah ini terjadi awal Januari 2013 ini.

Saat itu dia pergi ke pasar di kawasan Semarang. Nah, seperti biasa STNK mobil diselipkan di dompet. Mereka sekeluarga pun berbelanja di pasar. Tanpa disadari, STNK yang hanya nyelip di dompet jatuh di pasar.

"Siang hari kami mulai kebingungan mencari STNK, seluruh rumah kami sudah periksa, sampai di tempat sampah juga, hasilnya nol alias tidak ketemu. Kami mulai khawatir dan mengira-ngira di mana kehilangannya. Sampai besok kami pusing dibuatnya," jelas Ade dalam surat elektroniknya.

Hingga pada keesokan harinya, dia pergi ke pasar itu lagi dan menanyai pedagang satu persatu. Mulai dari penjual ikan, sayur, hingga tukang kue. Nah, ternyata pada saat di tempat penjual kue sang ibu penjual menanyakan kepada Ade soal kehilangan STNK.

"Tentu saja kami menjawab pasti ya dan ibu penjual kue menyerahkan STNK mobil kami. Pada saat kami ingin memberikan tanda terima kasih, ibu kue menolak, bahwa dia mengatakan rezeki itu di tangan Yang di atas. Kami hanya mendoakan bahwa setiap rezeki yang dia terima merupakan salah satu dari kebaikan kejujuran yang dia terapkan," terang Ade.

Satu lagi kisah kejujuran datang dari Malang, Jatim. Seorang tukang bakso di kawasan Jl Salatiga mengembalikan Blackberry (BB) yang ditemukannya. Dia juga menolak imbalan yang diberikan pemilik BB itu.

Kisah itu dituturkan Dessy (25) warga Jl DI Panjaitan, Malang. Cerita bermula pada Desember 2012 lalu kala suaminya Dwi (25) yang mengendarai motor ditabrak sebuah mobil L 300. Dwi jatuh dan BB-nya pun ikut jatuh.

"Sesampainya di kantor suami saya baru menyadari kalau HP BlackBerry yang ada tadi di kantong sudah tidak ada. Lalu dia telepon saya menceritakan semua kejadian yang dia alami tadi, saya diminta untuk mencoba menghubungi HP BlackBerry-nya," jelas Dessy.

Saat dia menelepon ke BB suaminya, ada seseorang yang mengangkat. Di ujung telepon, sang bapak mengaku sebagai penjual bakso dan mempersilakan mengambil BB itu ke Jl Salatiga, Malang.

"Saya orang jual bakso di Jl Salatiga, tadi suaminya jatuh dan HP-nya saya temukan. Silakan ambil saja di Jl Salatiga, Mbak," cerita Dessy menirukan sang bapak.

Suami Dessy kemudian berangkat ke Jl Salatiga untuk menemui penjual bakso itu. "Subhanallah, orang jual bakso itu benar-benar jujur, dengan polosnya dia berkata "Saya ndak mau apa-apa Mas, yang penting Anda selamat saya sudah senang, ini HP-nya," tutur Dessy.


Sumber : http://news.detik.com/read/2013/01/23/094851/2150314/10/cerita-tukang-becak-tukang-bakso-tukang-kue-tentang-kejujuran

2 comments: